JAKARTA, POS RONDA
– Pemerintah Indonesia dikabarkan akan bersiap untuk mengimpor
alutsista asal Jepang, Mobile Suit Gundam. Langkah ini merupakan respon
pemerintah Indonesia terhadap meningkatnya potensi ancaman monster laut
yang berbahaya dari Samudera Hindia.
Kabar
tersebut berasal dari bagian dokumen rahasia milik Badan Intelejen Pusat
Amerika Serikat (CIA) yang disinyalir isinya telah dibocorkan oleh
pihak internal. Bagian dari dokument tersebut dipublikasikan dalam StrategicInsider.net,
sebuah situs dunia maya yang menerbitkan dokumen atau laporan
seharusnya tidak diperkenankan dibaca ataupun dilihat oleh khalayak
luas. Meski operasinya hampir mirip dengan Wikileaks, Strategic Insider
lebih mengkhususkan kepada dokumen-dokumen intelejen dan militer.
Dalam situsnya yang bertanggal akses 19 Mei 2014, Strategic Insider melansir sebuah laporan dengan judul “CIA’s report on KAIJU threats leaked: Mobile suit mass-production might be imminent!”. Laporan tersebut berisikan naskah dokumen sepanjang satu halaman beserta foto-foto dan gambar yang berkaitan.
Pokok utama
dalam naskah dokumen tersebut adalah disebutkannya potensi ancaman
monster laut yang disebut sebagai KAIJU yang berbahaya bagi umat
manusia, serta reaksi pemerintah di seputar Samudera Hindia, termasuk
Indonesia dalam menghadapi ancaman tersebut
Kami
memperoleh informasi paling mutakhir dari pos Delta-Gamma bahwa
frekuensi pergerakan monster laut ‘KAIJU’ semakin meningkat menuju
potensi ancaman berbahaya. Pemerintah di Lingkaran Hindia telah
mempersiapkan langkah pencegahan. Indonesia, terutama, mempersiapkan
diri dengan memesan Mobile Suit Gundam dari HINODE Heavy Industries
milik Jepang. Demikian hasil terjemahan salah satu kalimat dalam naskah dokumen tersebut.
Menurut
analisis Strategic Insider, pos Delta-Gamma yang dimaksud adalah
pangkalan militer milik AS-Inggris Diego Garcia yang terletak di
tengah-tengah Samudera Hindia. Analisis tersebut bahkan menjelaskan
lebih lanjut bahwa pembangunan pangkalan militer di tempat tersebut,
beserta pengusiran paksa para penduduk lokal, sejak awal merupakan
bagian dari program rahasia untuk mengawasi pergerakan KAIJU.

Masih belum
diketahui dari mana asal ataupun apa yang menciptakan KAIJU, atau apakah
monster laut tersebut sudah ada sebelumnya secara alamiah. Namun dari
foto monokrom yang disertakan pada arsip dokumen, yang dimaksud dengan
KAIJU adalah organisme amfibi yang berukuran sangat besar dengan
kemungkinan daya hancur fisik yang tidak dapat dibayangkan.
Beberapa
istilah yang cukup asing juga tercantum dalam naskah dokumen tersebut,
seperti ‘Project: CELESTIAL BEINGS’, ‘sunrise technologies’, ‘Precursors
Initiative’, dan ‘K-DAY countdown’.
Dalam
dokumen tersebut juga terdapat gambar rancangan mesin mekanik berukuran
besar seperti robot untuk keperluan tempur. Analisis Strategic Insider
menganggap bahwa gambar tersebut adalah rancangan awal dari mesin perang
bergerak berbentuk robot raksasa yang disebut sebagai Mobile Suit
Gundam, yang dapat dikendalikan oleh satu orang pilot atau lebih.
Hingga saat
ini diperkirakan seluruh produksi Mobile Suit masih berupa prototipe,
meski menurut analisis tersebut, situasi yang ada akan menyebabkan
Mobile Suit segera diproduksi secara massal untuk kepentingan militer.
Salah satu
perusahaan yang memproduksi Mobile Suit Gundam adalah HINODE Heavy
Industries Ltd. yang bermarkas di Sakai, Osaka, Jepang. Penelusuran POS
RONDA untuk meminta konfirmasi atas informasi bahwa Indonesia akan
membeli Mobile Suit produksi mereka tidak mendapatkan jawaban yang
jelas.
“Kami tidak
dapat memberikan informasi secara detail, tapi kami memastikan bahwa
Mobile Suit Gundam telah berada pada tahap siap untuk digunakan sebagai
instrumen pertahanan. Beberapa negara telah memesan produk kami,
termasuk dari Asia Tenggara.” jawab pihak HINODE melalui surat
elektronik. Mereka menolak untuk menyebutkan negara mana saja yang
dimaksud.

Pengamat
pertahanan dan keamanan dari embaga Indonesian Security Studies, William
T. Ronggoputro, menyarankan agar masyarakat Indonesia tidak
terburu-buru untuk mempercayai laporan tersebut.
“Laporan tersebut bisa benar atau pun tidak. Dalam dunia intelejen, yang namanya lempar-melempar counterfeit documents adalah hal yang biasa untuk membuat terjadinya misinformasi pada musuh.” ujar William.
Meski
demikian, menurut William, bukan berarti laporan tersebut juga harus
disepelekan. Bagaimanapun juga, setiap potensi ancaman baik nyata maupun
tidak harus selalu masuk dalam perhitungan dan analisis pertahanan.
Dalam kasus
KAIJU, memang pada dasarnya Indonesia belum memiliki alutsista yang
cukup memadai untuk menghadapi ancaman tersebut. Karena itu dirinya
mendukung apabila pemerintah memutuskan untuk mengimpor mesin perang
Gundam.
“Memang pada
dasarnya untuk ancaman tersebut, apa yang kita miliki masih kurang. Ya,
kita memang memproduksi alutsista, tapi apa yang ada tidak siap untuk
skala sebesar itu. Kita belum punya teknologinya. Bila ini yang menjadi
alasan pemerintah untuk mengimpor Gundam, saya mendukung. Asalkan ada
yang namanya transfer of knowledge dan juga teknologi.” tambahnya.

Namun,
William juga memperingatkan agar pemerintah melakukan analisis mendalam
sebelum benar-benar mendatangkan Mobile Suit, terutama dalam
praktis-tidaknya penggunaan alutsista tersebut, serta cocok-tidaknya
untuk diterjunkan di medan kepulauan dan pegunungan seperti Indonesia.
“Harus
hati-hati memang dalam memilih alat perang. Jangan sampai kita pesan
Gundam, sampai sini begitu berjalan tiba-tiba amblas di rawa-rawa karena
terlalu berat. Jika pemerintah lebih jeli, sebenarnya ini bisa
dikoordinasikan dengan ASEAN sebagai bagian dari ASEAN Security
Community. Dengan demikian bisa mengurangi burden of share pemerintah Indonesia dalam pengadaan maupun perawatan.” papar William.
Indonesia
dalam beberapa tahun terakhir ini mengimpor sejumlah alutsista demi
kepentingan pertahanan nasional, antara lain Tank Leopard, kapal korvet
Sigma, dan pesawat tempur Sukhoi. Namun Indonesia sendiri juga merupakan
pengekspor peralatan militer, seperti senapan serbu SS-1 dan SS-2,
pesawat patroli maritim CN-235, Panser Anoa, dan yang terakhir adalah
penjualan kapal perang produksi PT. PAL ke Filipina.
Hingga
tulisan ini diturunkan, masih belum ada tanggapan dari Kementerian
Pertahanan Republik Indonesia berkenaan dengan isu KAIJU dan impor
Mobile Suit Gundam tersebut. (Sha01/Nos)
====
Sumber : www.posronda.net

0 komentar:
Post a Comment